Jejak kebudayaan tarekat di Bima menandai periodisasi emas perkembangan ilmu pengetahuan di tanah Dou Mbojo. Dibawa oleh para Syekh tarekat, pengaruh ini merasuk ke berbagai lini kehidupan. Mulai dari sistem pertanian, pengobatan tradisional, arsitektur, hingga laku spiritual.
Oleh leluhur Bima, seluruh sintesis pengetahuan komprehensif ini diistilahkan sebagai Fitua. Tidak berhenti pada ranah kognitif dan spiritual, akulturasi tarekat juga memperkaya estetika kebudayaan lokal, seperti yang terepresentasi dalam seni bela diri Manca dan tradisi lisan Mpama.
![]() |
| Simbol Geometris Nggusu Waru |
Melalui koleksi naskah tarekat di Museum Samparaja, kita dapat melihat bagaimana keragaman mazhab sufisme seperti Syadziliyah, Qadiriyah, Naqsyabandiyah, dan Khalwatiyah. Berperan vital dalam membangun fondasi tauhid dan akidah masyarakat masa silam.
Berikut adalah transliterasi, terjemahan, serta pembacaan kontekstual dari tiga lembar utama manuskrip spiritual tersebut.
![]() |
| Lembaran Naskah Pertama |
Zikir Proteksi dan Rajah Tarekat Syadziliyah dalam manuskrip lembar pertama ini berfungsi sebagai panduan amalan zikir ketauhidan sekaligus proteksi diri (dā'irah). Di dalamnya, aspek syariat (ayat Al-Qur'an) berpadu erat dengan tradisi penulisan wafak.
"Inilah dā'irah tarīqat tauhīd yang pertama dibaca Fatihah kemudian tasyahhud kemudian Qul Huwallāhu Ahad kemudian Qul A'ūżu bi Rabbil-Falaq dan Qul A'ūżu bi Rabbin-Nās. Kemudian ikhlas hafīzhahumā wa huwa Al-Aliyyul-Azhīm. Kemudian taubat pertama zikir ... kemudian zikir hatinya Ya Hu. Kemudian zikir jiwanya ... kemudian berjalan dengan ... Inilah dā'irah yang mendatangkan faedah badan kita daripada marabahaya..."
Simbol geometris atau Rajah Nggusu Waru di bagian tengah naskah, terdapat diagram geometris berbentuk Rub al-Hizb di dalam persegi panjang yang dikelilingi teks Arab. Masyarakat Bima mengenalnya dengan sebutan Nggusu Waru (Segi Delapan).
Kalimat Tauhid & Simbol dalam garis luar diagram dikelilingi kalimat Lā ilāha illallāh yang diselingi angka mistis Arab (rajah). Di pusat Nggusu Waru, tertulis lafaz Allah (الله) di bagian atas dan lafaz Huwa (هو) di dalam lingkaran kecil di bawahnya.
Ayat Pelindung (Garis Diagonal):
Fallāhu khairun ḥāfiẓan wa huwa arḥamar-rāḥimīn (QS. Yusuf: 64) – "Maka Allah adalah penjaga yang terbaik dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang."
Lā tudrikuhul-abṣāru wa huwa yudrikul-abṣār (QS. Al-An'am: 103) – "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan."
Kemudian bagian bawah panduan Zikir Nafi Itsbat Syadziliyah. Teks di bawah diagram memuat instruksi spesifik mengenai tingkatan kedalaman makna zikir Nafi Itsbat (meniadakan sesembahan selain Allah dan menetapkan hanya Dia):
Setelah itu ada penjelasan tingkatan Zikir dan makna Spiritual
Lā Ma'būda illallāh
Tidak ada yang disembah selain Allah.
Lā Maqṣūda illallāh
Tidak ada yang dituju selain Allah.
Lā Maujūda illallāh
Tidak ada yang hakiki wujudnya selain Allah
![]() |
| Lembaran Naskah kedua |
Lalu pada lembar II semiotika dari anatomi tubuh spiritual. Lembaran kedua ini merupakan prototipe naskah mistisisme Islam Nusantara (Sufisme Melayu) yang khas. Menggunakan bahasa Melayu beraksara Jawi, lembar ini mengilustrasikan penyelarasan tubuh manusia (mikrokosmos) dengan alam semesta (makrokosmos) melalui konsep Nur Muhammad.
Naskah ini memuat skema antropomorfis (serupa tubuh manusia) untuk menjelaskan ajaran makrifat:
Kepala & Leher: Tertulis lafaz Allah (الله) pada bagian kepala dan Rasul (رسول) di bawah leher. Teks Jawi di sampingnya menegaskan keteguhan iman untuk keselamatan jiwa dan raga.
Bahu & Sayap: Sisi kanan tertulis "Susu Kanan" (berunsur Air) dan sisi kiri tertulis "Susu Kiri" (berunsur Tanah).
Dada & Jantung (Segitiga): Visualisasi jantung diisi dengan lafaz Allah, dikelilingi potongan kalimat tauhid Lā (لا) dan Ilāha (إله). Di sampingnya tertulis kalimat ikonik kaum sufi: “Ilāhī Anta Maqṣūdī wa Riḍāka Maṭlūbī...” (Tuhanku, Engkaulah tujuanku dan rida-Mu yang kucari).
Teks bagian tengah menggunakan struktur pemikiran Melayu-Arab yang merujuk pada kesaksian malaikat dan asal-usul penciptaan:
"...ya Malā'ikah 4 (empat) arwāh turun dan naik... Al-Hayyu liyyamūt Haq Allah maujūd Allah... Engkaulah yang ghaib, wahai yang ghaib... Nur Muhammad..."
Ini merupakan amalan perlindungan yang menyelaraskan ritme pernapasan (ruh turun-naik) dengan penjagaan empat malaikat utama, sekaligus menegaskan Nur Muhammad sebagai matriks asal-muasal kehidupan.
Untuk mencapai keagungan di dunia dan akhirat, naskah ini memberikan panduan visualisasi mistis menempatkan para Khulafaur Rasyidin dan Malaikat pada organ tubuh manusia:
Hati Kecil / Dada: Tempat Sayyidina Abu Bakar & Malaikat Jibril (pemegang cermin hati).
Hati Af'al (Perbuatan): Tempat Sayyidina Umar & Malaikat Mikail.
Jantung Kiri: Tempat Sayyidina Utsman & Malaikat Israfil.
Empedu: Tempat Sayyidina Ali & Malaikat Izrail.
Seluruh visualisasi organ ini bermuara pada Nur Muhammad sebagai inti cahaya alam semesta. Teks ditutup dengan instruksi: "Hubungkan nama yang haram mutlak, bisikkan kau haq," sebuah peringatan untuk mengunci amalan ini secara batiniah dengan Kebenaran Mutlak.
![]() |
| Lembaran naskah ketiga |
Lembar ketiga bergeser pada panduan praktis zikir dan visualisasi makrifat dari dua tarekat besar dunia yaitu Tarekat Jaelani (Qadiriyah) dan Tarekat Naqsyabandiyah. Dibuka dengan maksim spiritual:
"Inilah dā'irah tarīqat Jaelānī yang menghasilkan biji tiada berkuah kembalikan turun naik nafas kita malam dan siang..."
Metode ini melatih kesadaran batin melalui pengaturan napas konstan. Secara vertikal, terdapat simpul batin (lathaif) manusia yang digambarkan melalui lingkaran:
Otak (Simbol م): Awal mula penyucian batin, dilakukan dengan menarik-menahan napas diiringi syahadat dan selawat penenang jiwa.
Hati/Dada (Simbol ح): Berhubungan dengan sifat Ilmu dan internalisasi waktu salat lima waktu ke dalam batin.
Pusat/Pusar (Simbol م): Melambangkan sifat Iradah (Kehendak).
Ujung Bawah (Segitiga): Melambangkan sifat Kudrat (Kuasa) dan Hayat (Hidup).
Bagian tengah memuat tata cara zikir metodis khas Naqsyabandiyah:
Membaca Istighfar (3x) dilanjutkan dengan Tafakur sejenak untuk menenangkan hati.
Membaca Al-Fatihah sebagai tawasul kepada pendiri tarekat, Syekh Muhammad Bahauddin Naqsyabandi, dan kepada guru spiritual masing-masing.
Ditutup dengan zikir Asmaul Husna "Ya Hu" serta ikrar pasrah total: “Ilāhī Anta Maqṣūdī wa Riḍāka Maṭlūbī”.
Pada bagian paling bawah, terdapat visualisasi segitiga geometris yang mengurai komponen fisik manusia dan ketauhidan:
Sudut Segitiga: Mewakili 4 anasir alam: Angin, Air, Api, dan Tanah.
Inti Diagram: Tertulis lafaz Allah (الله) dan Muhammad Rasul (محمد رسول).
Rajah Proteksi: Di sudut kiri bawah, terdapat rajah segitiga kecil terpisah berisi asma Ya Hayyu (Yang Maha Hidup), Ya Qayyūm (Yang Maha Mandiri), dan Dā'im (Yang Kekal) sebagai zikir peneguh keselamatan batin.
Melalui pembacaan tiga lembar manuskrip dari Museum Samparaja ini, kita disuguhkan bukti autentik betapa kayanya literasi keagamaan leluhur Bima. Tradisi tarekat terbukti tidak hanya membentuk kesalehan individual, melainkan juga merajut tatanan kebudayaan sosio-religius yang multikultural, mendalam, dan tangguh bagi masyarakat Dou Mbojo.
Oleh : Fahrurizki
Penulis Budaya dan Sejarah Bima




0 comments Blogger 0 Facebook
Posting Komentar