ADS

alam acara perkawinan masyarakat Bima akan melakukan berbagai macam ritual dalam  proses pelaksanaan sebelum perkawinan di adakan, diantaranya Teka Ra Ne,e. Tradisi Teka Ra  Ne,e bukan hanya dilakukan pada saat acara pernikahan tetapi juga di lakukan pada saat acara khitanan (Suna Ra Ndoso), bahkan acara Doa meninggal (Doa Mori dou). 

Saat acara hajatan  berlangsung, tetangga, kerabat datang untuk membantu. Mereka tdak hanya turun tangan membantu pekerjaan, tetapi juga membawa berbagai keperluan, mulai dari kayu bakar, kue tradisional, beras, kelapa, buah-buahan, hingga hewan ternak. 

Tradisi Teka ra Ne'e (Mbojoklopedia) 

Teka Ra Ne'e merupakan tradisi gotong royong yang hingga kini masih lestari di tengah masyarakat Bima. Dalam pelaksanaannya, seseorang yang akan mengadakan hajatan wajib melapor terlebih dahulu kepada tetua adat kampung, sekarang lebih dikenal dengan RT/RW.

Setelah itu, tetua adat akan menunjuk utusan untuk menyampaikan pengumuman tersebut dari rumah ke rumah atau di mesjid. Tahap selanjutnya adalah pelaksanaan Mbaju, yaitu kegiatan menumbuk padi sebagai persiapan hajatan. Aktvitas ini biasanya dilakukan oleh istri tetua adat beserta para kerabat perempuan. 

Melalui kegiatan inilah dimaklumatkan bahwa akan ada acara besar di rumah tersebut, dan sejak saat itulah tradisi Teka Ra Ne'e resmi dimulai. Pelaksanaan Mbaju itupun dulu hanya dilakukan oleh masyarakat Bima pegunungan. 

Dalam tradisi Teka Ra Ne’e zaman dulu, para wanita mengenakan Rimpu sebagai busana khas penutup aurat saat berangkat menuju tempat acara. Suasana yang tercipta sangat hangat, penuh dengan semangat kerja sama serta gotong royong. Tradisi ini terus dilaksanakan setap kali ada keluarga yang mengadakan hajatan. 

Biasanya, acara-acara ini digelar setelah masa  panen selesai dan diatur oleh Kepala Kampung agar jadwalnya tdak saling berbenturan. Di masa lalu, masyarakat Bima memiliki pantangan untuk mengadakan hajatan pada musim paceklik, yaitu sekitar bulan September hingga Desember. Periode ini dikenal sebagai “Wura Hela”, yakni bulan-bulan di mana tdak ada kegiatan panen. 

Saya masih teringat masa kecil ketka ikut membantu menyusun kursi dan mengakat-angkat barang yang baru di beli dari pasar. Pada saat itu, kursi yang populer adalah kadera plastk, dan kursi kayu biasa. Semua barang tersebut dipinjam dari tetangga, lalu dicatat dan ditandai nama pemiliknya agar tdak tertukar. Saya juga ingat betul waktu orang-orang mengikat Tenda/ paruga menggunakan terpal lalu di ikat di kayu/bambu yang mereka siapkan sebelumnya, yang akan di jadikan tempat orang-orang mengiris sayuran bahkan daging, pada saat acara dilaksanakan. 

Kadang-kadang di pojokan ada bapak-bapak yang duduk santai sambil berbincang hangat, sambil menunggu kelapa yang mau mereka potong. Kehangatan dan kebersamaan dalam acara hajatan masyarakat Bima, memang sesyahdu itu. Aktvitas ini sudah sangat jarang dilakukan oleh masyarakat Bima perkotaan, di beberapa polosok desa masih dilakukan. 

Pelaksanaan tradisi Teka Ra Ne’e kini telah banyak mengalami perubahan. Bantuan yang diberikan sekarang lebih banyak berbentuk uang menggunakan amplop, biar lebih feksibel “katanya”. Nilai kebersamaan dan gotong royong pun mulai memudar seiring hadirnya berbagai kemudahan, sepert tersedianya jasa sewa tenda, kursi, peralatan seni, dekorasi pelaminan, hingga katering makanan. Keluarga yang berhajat kini cukup menyiapkan dana untuk membayar semua kebutuhan tersebut. 


Oleh : Haryati

Penulis Sejarah dan Budaya





Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama

0 comments Blogger 0 Facebook

Posting Komentar

 
Mbojoklopedia © 2013. All Rights Reserved. Powered by Jelajah Bima
Top