Pesan tentang kerusakan ekosistem alam di Tanah Bima rupanya telah digaungkan sejak lebih dari setengah abad lalu. Adalah Band Doro Tambora, sebuah grup musik legendaris, yang merekam kegelisahan tersebut lewat lagu ikonik mereka berjudul Nasi Kodo Da. Populer sejak tahun 1964 hingga hari ini, lirik lagu tersebut ternyata menyimpan pesan tersirat dari para leluhur Bima masa silam.
Namun, mengartikan isi kepala para personel Doro Tambora tidaklah mudah. Nasi Kodo Da memuat bait-bait bahasa Bima kuno yang sulit diterka oleh generasi sekarang. Setelah melalui pendalaman selama beberapa pekan, penulis akhirnya berhasil mengurai tabir makna dan menangkap pesan ekologis yang ingin disampaikan oleh sang pencipta lagu.
Nasi Kodo Da diciptakan oleh A. Rais AD Talu, seorang budayawan sekaligus frontman dari Band Doro Tambora. Band ini bukanlah kelompok musik biasa. Dibentuk di Jakarta pada tahun 1962 oleh empat pelajar asal Bima: A. Rais AD Talu (vokal/gitar), Iskandar Dae Ado (vokal/dub), Mansyur Abdullah (bass), dan Nurdin Abdullah (drum). Doro Tambora tercatat sebagai grup musik modern kedua di Nusa Tenggara Barat dan pionir Pop Daerah penjaga Hikayat dalam pesan lagunya. Setelah band Suara Muda yang berdiri di Raba tahun 1920-an.
![]() |
| Penampilan Band Suara Muda di Raba tahun 1949. (Tropen Museum) |
Dengan mengawinkan genre blues, jazz, dan pop, mereka menjadi pionir yang melahirkan musik pop daerah di Nusa Tenggara. Jejak mereka kelak menginspirasi generasi berikutnya, seperti Syarifuddin yang mendirikan band Rinda Nada.
Generasi personel Doro Tambora (kelahiran 1946–1964) tumbuh dalam asuhan Mpama (hikayat/fabel) tentang cara bertahan hidup hewan di alam liar, seperti Mpama Bango, Mpama Sahe, dan Mpama Udi ra Mudi. Nilai-nilai ekologis dari hikayat inilah yang kemudian mereka transformasikan ke dalam lirik-lirik musik modern.
Setiap lirik lagu mereka menjadi ramalan Ekologis yang menjadi nyata. Berikut adalah untaian lirik Nasi Kodo Da yang sarat akan makna filosofis:
Nasi Kodo Da
Nasi Kodo da
Doro ma kola
Nasi Kodo da
Doro ma kola
Maju ndere kala
Nasi Kodo da
Londe ma lino
Nggali Dou ma landa
Nasi Kodo da
Nggomi ma lao
Ade nami ma lalai
Nami ma midi
Ade cua samada
Judul Nasi Kodo Da memiliki arti "Burung Kuntul yang Sendirian". Dahulu, setiap bulan Juni hingga Juli, kawanan burung kuntul (Nasi Kodo) selalu memadati kawasan pertanian Woha dan pesisir Bima untuk membasmi hama sawah secara alami. Oleh leluhur Bima, kehadiran burung ini adalah simbol kemakmuran. Ketika burung kuntul digambarkan "sendirian", itu adalah peringatan awal akan hilangnya keseimbangan rantai makanan.
Bait Doro Ma Kola berarti gunung yang telah gundul, disusul kalimat Maju Ndere Kala yang berarti rusa berbulu cokelat merah. Dalam mitologi Bima, rusa jenis ini adalah hewan gaib peliharaan para Ncuhi (kepala suku) yang hidup di jantung hutan perawan dan sangat jarang menampakkan diri. Leluhur percaya, jika manusia sudah bisa melihat rusa ini berkeliaran, itu adalah pertanda bahwa hutan tempat tinggal mereka telah hancur atau hilang.
Kalimat Londe ma lino, nggali Dou ma landa mengisahkan tentang masa ketika ikan berlimpah hingga jarang ada orang yang menjualnya, sebuah satire yang kritis dan tajam. Lirik ini menjadi tamparan keras bagi kondisi Teluk Bima saat ini.
Jika pada rentang tahun 1996 hingga 2015 teluk masih dihiasi benderang lampu kapal-kapal bagan penangkap ikan, kini tak ada lagi satu pun lampu bagan yang terlihat. Teluk Bima telah meredup, ekosistemnya rusak akibat sedimentasi, banjir bandang, dan pencemaran lingkungan.
Sementara itu, bait Nggomi ma lao, Ade nami ma lalai (Engkau yang pergi, hati kami yang bahagia) merupakan simplifikasi dari sumpah sakral kuno: Nggomi ma lao, nami ma midi labo bisa ro guna.
Kalimat ini awalnya mengisahkan keberangkatan Raja Bima, Bilmana (1480–1490), menuju Kerajaan Gowa di Makassar untuk menimba ilmu pertanian dan perikanan. Kepergiannya diiringi harapan besar kaumnya. Ditutup dengan Ade Cua Samada, yang bermakna hati yang saling merindu, sebuah kerinduan mendalam akan tanah leluhur yang lestari.
Bagaimana mungkin musisi era 1960-an bisa meramal kerusakan alam yang baru masif terjadi puluhan tahun kemudian? Ketika mereka menciptakan lagu ini, alam Bima masih sangat asri. Namun, lewat sensitivitas seni dan kearifan lokal yang mereka pelajari, Band Doro Tambora berhasil membaca masa depan, Nasi Kodo Da menjadi warisan yang melampaui zaman.
Nasi Kodo Da bukanlah satu-satunya lagu protes lingkungan mereka. Masih ada lagu lain seperti Bua Ura dan Jaledo yang sama, tetap pada kritik mereka, membawa alarm tentang kerusakan alam. Melalui karya-karya ini, Band Doro Tambora tidak hanya menobatkan diri sebagai pionir musik modern, tetapi juga sebagai aktivis lingkungan pertama di Nusa Tenggara dan Indonesia Timur yang berjuang lewat petikan gitar dan bait lagu.
Kini, saat gunung-gunung di Bima kian gundul setiap tahunnya, lagu Nasi Kodo Da terdengar bukan lagi sebagai hiburan, melainkan sebuah ratapan dan peringatan dari masa lalu yang terabaikan.
Oleh:
Fahrurizki
Penulis Budaya & Sejarah Bima

0 comments Blogger 0 Facebook
Posting Komentar